Radarjawa - Transformasi fungsi pemasyarakatan kini menitikberatkan pada kesiapan warga binaan untuk kembali berintegrasi dengan masyarakat melalui penguatan keterampilan produktif. Langkah strategis ini selaras dengan poin ke-10 dalam 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) Tahun 2026, yakni optimalisasi pemasaran produk hasil karya warga binaan melalui sinergi ekonomi. Guna mewujudkan hal tersebut, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kerobokan berkomitmen menciptakan tenaga kerja terampil yang siap bersaing di industri kreatif.
Senin (04/05), jajaran seksi kegiatan kerja menggelar asesmen khusus di area bimbingan kerja Lapas Kelas IIA Kerobokan. Kegiatan ini bertujuan menjaring warga binaan yang memiliki minat dan bakat di bidang garmen untuk dipersiapkan dalam program pelatihan lanjutan. Melalui proses seleksi yang objektif, pihak Lapas memetakan kompetensi dasar peserta agar pembinaan yang diberikan tepat sasaran dan mampu menghasilkan produk sandang berkualitas tinggi yang memiliki nilai jual di pasar luas.
Secara terpisah, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Bali, Decky Nurmansyah, memberikan apresiasi atas inisiatif ini. Beliau menekankan bahwa asesmen adalah fondasi penting dalam penjaminan mutu program pembinaan kemandirian. Senada dengan hal tersebut, Kepala Lapas (Kalapas) Kelas IIA Kerobokan, Hudi Ismono, menegaskan visi instansinya. "Kami ingin memastikan setiap warga binaan memiliki bekal konkret. Asesmen garmen ini bukan sekadar rutinitas, melainkan pintu bagi mereka untuk merajut kembali harapan dan masa depan yang lebih bermartabat," ujarnya. Di balik jeruji, sebuah keterampilan sedang diasah, membuktikan bahwa kreativitas tidak pernah terbatas oleh ruang dan waktu.
